Renungan : Ramadhan
Artikel : Assyeikh Assayyid Assyarief Ali Assyafi'i Al-Ihsan Al-Hasanain
• Ada seseorang Kirim Invoice : suara kepada saya , Mereka mengajak saya untuk bergabung bersama team mereka , untuk Berkumpul bersama ulama Nasab dan Fakar ilmu Nasab :
Terkait pembatalan Nasab Ba'alawi , Bahkan Akan di selenggarakan Untuk kumpul bersama ulama - ulama Nasab internasional :
Jawaban saya :
Bukan saya tidak mau ikut , Namun Saya ini Adalah Orang seseorang Sufi yang tulen , yang dimana Nasab itu bukanlah sesuatu hal yang sangat penting , Nasab juga tidak akan bisa menolong diri kita selamat pulang Apabila tidak dibawa dengan Iman , taqwa , ilmu ?..
walaupun saya sangatlah memahami ilmu nasab , Tetapi itu bukanlah sesuatu hal yang sangat penting bagi saya, walaupun saya pernah mempelajari ilmu nasab , manuskrip dll , Namun akan tetapi saya adalah , seseorang yang menganut mendalami mengamalkan ilmu - ilmu Sufi tasawuf , jadi tidak diperbolehkan seseorang Pengamal sufi , menjatuhkan seseorang , sekali lagi saya mohon maaf tidak bisa ikut bergabung dalam membantu dan mengikuti tawaran anda !!!
Saya Mau Cerita sedikit Semoga bisa disimak menjadi pencerahan diri kita semua :
• menceritakan kembali apa yang ditulis oleh Imam al Ghazali dalam bukunya Al Tibr al Masbuk.
Suatu hari Ada cucu Nabi yang amat saleh dan rendah hati, yang populer dipanggil "Al-Sajjad" tampak sedang berduka. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Pipinya basah oleh air mata yang tak terbendung. Temannya mengatakan : "wahai, putra Husein yang mulia, cucu Ali bin Abi Thalib yang mulia dan cicit Nabi Muhammad, utusan Allah yang amat mulia, mengapa engkau berduka?".
Al-Sajjad menjawab :
saudaraku, tolong jangan bawa-bawa ayah, ibu dan kakekku. Aku sedang memikirkan masa depanku sendiri, aku akan tinggal di mana sesudah aku meninggalkan dunia ini. Apakah aku akan selamat atau tidak?. Ingatlah, di akhirat kelak tak ada lagi hubungan nasab/keturunan yang bisa menyelamatkan seseorang, kecuali amal salehnya masing-masing".
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ
"Apabila terompet ditiup (kelak pada hari kiamat) maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanggungjawab".
Allah juga mengatakan :
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ. يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
"Dan apabila terompet kedua ditiup. Hari ketika manusia lari dari saudaranya,dari ibu dan bapaknya,
dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu Disibukkan oleh urusan dirinya sendiri".
Sementara demikian Allah dalam al-Qur'an menyatakan :
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُون َإِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"(yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."
• Betapa mendalamnya pengetahuan Al-Sajjad, cicit Nabi itu, dan betapa rendah hatinya beliau. Ia sangat mengerti bahwa kemuliaan dan kebaikan seorang manusia hanyalah karena ketakwaannya kepada Allah, bukan karena keturunan, jabatan, jenis kelamin, asesoris atau simbol-simbol yang dilekatkan orang kepadanya.
Allah sudah mengatakan hal ini :
ان اكرمكم عند الله أتقاكم
"Sesungguhnya yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang paling bertakwa".
Semoga bermanfaat !!!
Admin : Majelis Ta'lim - Dzikir Al-Qodiri Asysyadzilliyah Pecinta Rasulullah S.A.W
Pimpinan : Assyaikh Assayyid Assyarief Ali Assyafi'i Al-ihsan Al-hasanain ( Mursyid Thoriqoh Pemegang 2 sanad Murni Qodiriyyah Murni dan Syadzilliyah Murni , Lintas Lebanon , Damaskus , Al-jazair , Marocco ,Tunis )

Komentar
Posting Komentar